Saturday, May 4, 2019

Terikat Perjanjian, Buaya dan Manusia di Kampung ini Hidup Berdampingan dengan Damai

Buaya diketahui merupakan salah satu spesies hewan purba yang masih bertahan hingga sekarang. Kemampuannya untuk bertahan menjadikan reptil raksasa ini sebagai salah satu hewan paling ditakuti. Selain itu kemampuannya beradaptasi juga membuat buaya bisa ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia. Tetapi, dari seluruh ekosistem buaya, mungkin yang paling unik ada di daerah Malaysia, tepatnya di Sungai Kesang, Saya Laut, Johor.


Di daerah ini diketahui bahwa buaya sering menampakkan diri di tengah-tengah manusia. Yang menjadikan unik adalah buaya dan manusia merasa tak terganggu satu sama lain sehingga kemunculan buaya di tengah-tengah aktifitas manusia di sekitar sungai dianggap bukan sebagai sebuah ancaman. Padahal, menurut warga sekitar, ada sekitar 100 ekor buaya di sungai tersebut dan beberapa diantaranya memiliki ukuran besar mencapai panjang lebih dari 2 meter.

Menurut Rosman Selamat, Ketua Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Kesang, keberadaan buaya-buaya tersebut sama sekali tak mengganggu bagi warga sekitar. Bahkan menurut Rosman, sejak dirinya kecil belum pernah mendengar adanya konflik antara manusia dan buaya. Tetapi ketika ditelisik lebih jauh, ternyata hubungan yang harmonis antara buaya dan manusia di daerah Sungai Kesang ini bukan tanpa alasan.

Konon, masih menurut Rosman, para nelayan terdahulu pernah membuat semacam perjanjian dengan buaya di wilayah itu. Entah bunyi perjanjiannya seperti apa, tetapi saat itu para nelayan melepaskan buaya-buaya yang tertangkap manusia. Sampai sekarang kebiasaan itu tetap dilanjutkan, jika ada buaya yang tertangkap maka akan segera dilepaskan. Entah balas budi atau misteri apa, faktanya buaya-buaya di Sungai Kesang tidak menyerang manusia. Mereka akan menyingkir ketika terdengar mesin kapal mulai berbunyi, tetapi akan kembali ketika tidak terdengar suara mesin kapal.

Tetapi kini mulai muncul masalah baru akibat pembangunan irigasi yang dilakukan di hulu Sungai Kesang. Akibat pembangunan saluran irigasi tersebut, hulu Sungai Kesang mengalami kerusakan dan buaya diketahui mulai mengubah sikapnya. Buaya mulai jarang terlihat di Sungai Kesang, dan sebagai gantinya buaya sering terlihat di dermaga dimana seringkali nelayan mencuci kapalnya pada malam hari. 

Lebih lanjut, Rosman berharap bahwa buaya-buaya tersebut tetap tidak menyerang manusia dan begitu pula manusia agar tetap menjaga lingkungan yang menjadi habitat buaya dengan memperhatikan kebersihan dan kelestarian ekosistemnya.


No comments:

Post a Comment